STAI Miftahul Ulum Tarate Pandian Sumenep

STAI Miftahul Ulum Tarate Pandian Sumenep
Inovasi Menembus Batas Dunia - Menuju Institut Terkemuka di Madura

Artikel Terkini 29 Feb 2020
By MEDIA CENTER STAIM TARATE

Menghidupkan Ruh Perguruan Tinggi

Menghidupkan Ruh Perguruan Tinggi

Oleh: Dedi Eko Riyadi HS, M.Pd.I*

(Dosen Prodi PGMI STAIM Tarate Sumenep)

 

            Salah satu indikator  kemajuan  suatu   daerah  bisa  kita  lihat  seberapa  banyak perguruan  tinggi  di daerah  tersebut. Semakin  banyak  perguruan  tinggi, maka  tinggat kemajuan  daaerah  tersebut  semakin  bagus, inilah  realitas  yang  terjadi.  Dan  banyaknya perguruan  tinggi  di darah  tersebut  merupakan  bentuk  kesadaran  masyarakat  akan  pentingnya  pendidikan. Namun semua ini tidak mengeyampingkan faktor-faktor lain sebagai indikator kemajuan suatu daerah, dan masih banyak  lagi faktor lain yang mendukung.

            Namun pada kenyataan yang terjadi dilapangan, akhir-akhir ini banyak berdiri perguruan tinggi  baik di derah pelosok maupun diperkotaan. Berdirinya perguruan tinggi tersebut dalam realitasnya, masih belum memenuhi kebutuhan lokal. Ini semua bisa kita lihat dari analisi sederhana yaitu : a) Fakultas dan jurusan banyak yang tidak mewakili kebutuhan daerah tersebut, seperti daerah yang berpotensi pertanian mestinya dibuka fakultas atau jurusaan tentang pertanian atau ekonomi pertanian, daerah yang berpotensi menghasilkan ikan  laut, mestinya didirikanlah fakultas atau jurusan yang konsentrasinya permberdayaan ikan dilaut dan lain sebagainya.  b) Banyak perguruan tinggi membuka jurusan yang sama dengan rata-rata yang ada di perguruan tinggi yang ada didaerah tersebut., sehingga wajar lulusan yang dihasilkan menghasilkan banyak pengangguran atau mereka terjun ke dunia kerja yang tidak sesuai dengan jurusan yang ditempuh ketika masa kuliah.

            Disamping persoalan tersebut, di internal perguruan tinggi sendiri, khususnya dinamika semangat mahasiswa sudah mulai menurun dalam menghidupkan ruh perguruan tinggi. Hidupnya  Ruh perguruan tinggi tidak hanya diukur dari satu sisi seperti geografis perguruan tinggi tersebut, misal diperkotaan atau di dekat ibu kota, atau malah terletak di pelosok yang jauh dari keramiain, semua ini tidak menjadi indikator akan hidupnya ruh perguruan tinggi.  Dan juga bukan diukur oleh megah tidaknya gedung perkuliahan, atau bukan dari taraf tinggi rendahnya ekonomi mahasiswanya, atau juga bukan karena banyak sedikitnya mahasiswa yang kuliah, namun ruh perguruan tinggi itu hidup ditentukan oleh tiga faktor berikut.

            Pertama, Sejauh mana minat dan semangat mahasiswa diperguruan tinggi tersebut untuk  membaca. Dalam hal ini membaca adalah menjadi salah satu tolak ukur pertama dalam meliat kualitas mahasiswa di perguruan tinggi manapun. Apabila mahasiswanya sudah tidak semangat membaca, tingkat baca mahasiswa lemah, jarang ditemukan mahasiswa memegang buku dan membaca buku, maka ruh perguruan tinggi tersebut sudah mulai redup. Melihat perguruan tinggi tersebut adalah tempat dalam menimba ilmu, tempat bertukar pendapat, tempat menganalisis persoalan, tempat meneliti dan lain sebagainya, maka semua aktifitas tersebut tidak bisa dilepaskan dari yang namanya membaca.  Tanpa membaca, mahasiswa tidak akan pernah tajam analisis keilmuannya, dangkal pengetahuannya bahkan dia hanyalah simbol dan punya nama mahasiswa yang tidak punya eksistensi keilmua yang matang. Namun sebaliknya apabila mahasiswa diperguran tinggi itu mempunyai ghiroh semangat membaca yang tinggi, mereka gelisah dan merasa tidak nyaman jika tidak membaca, maka ruh pergururan tinggi tersebut sudah mulai hidup.

             Kedua, Sejauh mana minat dan semangat mahasiswa diperguruan tinggi tersebut melakukan diskusi. Diskusi tidak hanya dilakukan di kelas tatkala ada tugas dari dosen. Tugas membuat makalah yang disarankan dosen tiap pertemua. Aktifitas diskusi yang diawasi oleh dosen di dalam kelas pada hakekatnya diharapkan mahasiswa nantinya ketika keluar kelas hendaknya terus membudayakan diskusi dimanapun dia berada. Komunitas komunitas diskusi dengan berbagai topik  semestinya ramai dilakukan mahasiswa di dalam dan di luar kampus dan di luar jam kuliah.

            Pada kenyataannya akhir-akhir ini diberbagai perguruan tinggi, budaya diskusi ini sudah mulai pudar. Mereka tidak punya ghiroh dalam melakukan diskusi, jarang ditemuakan komunitas-komunitas diskusi mahasiswa di dalam kampus ataupun di luar kampus itu sendiri. Mereka rata-rata hanya melakukan diskusi ketika di dalam kelas itupun karena ada tuntutan dan tugas dari dosen. Apabila mahasiswa gelisah tidak melakukan diskusi maka ruh perguruan tinggi sudah mulai hidup, namun sebaliknya apabila yang terjadi seperti apa yang penulis jelaskan di atas, ghiroh mahasiswa akan diskusi mulai turun, mahasiswa sudah enggan melakukan diskusi maka ruh perguruan tinggi tersebut sudah mualai mati.

               Ketiga, Sejauh mana minat dan semangat mahasiswa diperguruan tinggi tersebut melakukan  tulis menulis. Budaya tulis menulis untuk menghasilkan karya ini sudah mulai hilang, baik dikalangan mahasiswa atau diwilayah dosen sendiri. Padahal salah satu indikator keluasan ilmu seseorang dapat diliat dari seberapa banyak karya tulisan yang dihasilkan.

            Diakui atau tidak, menulis merupakan hal yang sangat langka ditemui pada mereka. Mereka menulis itu karena hanya ada tugas makalah dari dosen, itupun kualitas tulisan yang dihasilkan belum maksimal, karena budaya plagiasi yang marak dihampir mayortitas mahasiswa. Padahal  dengan membudayakan menulis dan berkarya ilmu dan wawasan seseorang akan dibaca setiap orang, dan dia akan dikenang sekalipun sudah tiada.

            Dosen di perguruan tinggi mempunyai tugas yang mulia yaitu mengajar, mengabdi, dan meneliti atau menulis. Hampir semua dosen bisa melakukan dua hal tersebut yaitu mengajar dan mengabdi kerena memang tuntutan yang harus dilakukan. Namun pada wilayah menulis, masih bisa dihitung atau bisa dikatakan dikatakan minim. Dari ini kemudian dapat ditarik kesimpulan bahwa apabila dosen dan mahasiswa menjadi gelisah tidak menulis, maka perguruan tinggi tersebut ruh nya sudah mualai hidup.

            Ruh perguruan tinggi itu terletak pada budaya membaca, berdiskusi, dan menulis yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa.  Apabila iklim ketiga hal tersebut sudah mulai hilang, maka eksistesi kampus sebagai dunia akademik sangat memprihatinkan.

Wallahua’lam

                                                                   * Kepala LPM STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep

            Sabtu, 29 Februari 2020

 

INFORMASI KAMPUS :

STAI Miftahul Ulum Tarate Pandian Sumenep
Menuju Institut Terkemuka di Madura

Jalan Pesantren No 11
Tarate Pandian Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur - Indonesia
Telp : +62 878 - 7030 - 0328 / WA : +62 81 776 - 883 -730 / +62 823 - 3483 - 4806

Website : http://www.staimtarate.ac.id

E-mail 1 : official@staimtarate.ac.id 

E-mail 2 :  staimtarate.official@gmail.com

 

SOSIAL MEDIA

AGENDA KEGIATAN

AGENDA

LAUNCHING RUMAH JURNAL DAN WORKSH